Pentingnya CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar

Ditulis oleh:
Berikut merupakan artikel mengenai Pentingnya CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar. Silahkan disimak!

Pembelajaran berbasis siswa sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru dalam proses pendidikan dan pengajaran. Kita pahami bahwa suatu kegiatan belajar dengan sendirinya melibatkan keaktifan peserta didik, meskipun keaktifan mereka berada dalam kadar atau derajat yang berbeda-beda.

Sehingga peningkatan mutu pendidikan senantiasa harus dilakukan, diperbaharui dan disempurnakan. Hal ini terjadi karena pendidikan pada dasarnya menyiapkan peserta didik untuk mandiri terjun ke masyarakat.

Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan adalah pembaharuan pendekatan pembelajaran. Untuk memberi kesempatan dan keleluasaan kepada anak, maka perlu kiranya dicari suatu alternatif pembelajaran yang dapat mengantisipasi kebutuhan anak dan masyarakat.

Pembelajaran berbasis siswa (aktif learning) atau lebih dikenal CBSA merupakan satu pendekatan yang berusaha mengingatkan kepada kita untuk melaksanakan pembelajaran manusiawi, yang memberikan keleluasaan anak berkembang seoptimal mungkin sesuai potensi yang dimiliki, dan kehadiran CBSA nampaknya juga mengandung maksud hendak mendorong guru-guru untuk bersungguh-sungguh menyelenggarakan proses pengajaran yang memungkinkan peserta didik terlibat dalam kadar keaktifan belajar yang tinggi. Pengajaran juga hendaknya berpusat pada peserta didik, arena pada dasarnya mengajar adalah memberikan bekal kepada peserta didik untuk siap terjun dalam masyarakat.


1. Pengertian CBSA

Pendekatan Belajar Aktif adalah pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri ini merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (Active Learning). Untuk dapat mencapai hal tersebut kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar bermakna bagi siswa atau anak didik.

Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimilki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.

Peran serta siswa (peserta didik) dan guru dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Guru berperan aktif sebagai fasilitator yang membantu memudahkan siswa belajar, sebagai nara sumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi siswa, sebagai pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan belajar bermakna, dan dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan. Siswa juga terlibat dalam proses belajar bersama guru karena siswa dibimbing, diajar dan dilatih menjelajah, mencari, mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hasil perolehannya secara komunikatif. Siswa juga diharapkan mampu memodifikasi pengetahuan yang baru diterima dengan pengalaman dan pengetahuan yang pernah diterimanya.


2. Prinsip-Prinsip CBSA

Prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:

Dimensi subjek didik:
˗ Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
˗ Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal ini terwujud bila guru bersikap demokratis.
˗ Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru.
˗ Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
˗ Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.

Dimensi guru:
˗ Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatkan kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
˗ Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
˗ Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
˗ Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara serta tingkat kemampuan masing-masing.
˗ Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multimedia. Kemampuan ini akan menimbulkan lingkungan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.


Dimensi program pembelajaran

Prinsip-prinsip yang perlu ada pada dimensi program pembelajaran adalah sebagai berikut.
˗ Penentuan tujuan dan isi pelajaran
Prinsip ini menuntut agar dalam mengembangkan program pembelajaran hendaknya dilakukan penyesuaian antara tujuan dari isi pembelajaran dengan karakteristik siswa, sehingga dapat memenuhi kebutuhan, minat dan kemampuan siswa.
˗ Pengembangan konsep dan aktivitas siswa.
Prinsip ini mempersyaratkan agar program mampu menyajikan alternatif kegiatan yang mengarah pada pengembangan konsep aktifitas belajar siswa.
˗ Pemilihan dan penggunaan berbagai metode dan media
Prinsip ini menuntut agar guru mampu memilih dan sekaligus mampu menggunakan berbagai strategi dan metode belajar-mengajar, sehingga dapat menciptakan kondisi belajar yang dapat membelajarkan siswa secara aktifdan penuh makna.
˗ Penentuan metode dan media
Prinsip ini mempersyaratkan agar dalam program pembelajaran diberikan altematif metode dan media yang dapat dipilih secara luwes, maksudnya pengembangan program hendaknya mampu memilih metode atau media sebagai alternatif memilih kesetaraan.

Dimensi situasi belajar-mengajar
Prinsip CBSA pada dimensi situasi belajar mengajar:
˗ Komunikasi yang bersahabat antara guru dan siswa.
˗ Kegairahan dan kegembiraan dalam belajar.


3. Strategi Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif

Strategi yang dapat digunakan guru dalam pendekatan CBSA antara lain:

˗ Refleksi
Guru dapat meminta siswa untuk secara berkala merefleksikan hal-hal yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran. Contohnya: melalui jurnal opinion paper .

˗ Pertanyaan Siswa (Anak didik)
Untuk setiap pokok bahasan atau pertemuan, guru memberi tugas siswa untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang belum dipahami, atau hal-hal yang perlu dibahas bersama guru dan teman-teman siswa lainnya.

˗ Rangkuman
Guru dapat membiasakan siswa untuk membuat rangkuman terhadap hasil disuksi kelompok yang dilakukan dikelas atau sebagai tugas mandiri. Selain itu rangkuman tersebut juga dapat merupakan tugas untuk mengevaluasi/menilai sesuatu seperti buku, artikel, majalah dan lain-lain berdasarkan prinsip-prinsip yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran.

˗ Pemetaan Kognitif
Pemetaan kognitif adalah alat untuk membuat siswa aktif belajar tentang konsep-konsep (reposisi) dan skemanya. Pemetaan kognitif juga dapat digunakan untuk menumbuhkan proses belajar aktif siswa. Untuk dapat merancang kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif dan menantang siswa secara intelektual, diperlukan guru yang mempunyai kreativitas dan profesionalisme yang tinggi.


4. Cara Pengembangan KBM di SD dengan Strategi CBSA

Ada kecederungan seseorang mengajarkan sesuatu, sebagaimana sesuatu itu diajarkan kepadanya. Sampai saat ini, model mengajar ceramah merupakan model yang mendominasi dan menjadi umum dalam pendidikan formal di berbagai belahan dunia.

Tak pernah ada hasil yang berbeda bila kita selalu menggunakan cara yang sama. Metode pengajaran satu arah jelas merupakan metode yang tidak optimal dalam mengembangkan kemampuan, baik bagi guru maupun siswa. Sementara itu, dialog, perbedaan pendapat yang dikomunikasikan akan lebih melibatkan keduabelah pihak untuk saling mencari, saling berbagi, dan mengasah totalitas pribadi dosen dan mahasiswa.

Active learning merupakan jawaban alternatif untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Kenapa? Karena pendekatan active learning merupakan pendekatan yang sesuai dengan cara kerja otak. Kata active learning atau belajar aktif sudah tidak asing di telinga kita. Banyak institusi pendidikan menyatakan bahwa mereka menyelenggarakan belajar aktif. Pemerintah pun menggalakkan program belajar aktif diterapkan di sekolah-sekolah.

Keaktifan bukan sekedar belajar kelompok atau berpasangan. Seyogyanya, belajar mengaktifkan secara fisik, sosial emosional, dan mental. Lebih lengkap: Keaktifan fisik dicapai melalui inkuri pencarian bahan/materi, menyiapkan kerja, dan sebagainya. Keaktifan Sosial mencakup bagaimana bekerja sama dalam berbagai situasi dan berbagai kegiatan. Ia secara tidak langsung berinteraksi dengan orang lain (orang dewasa, teman sebaya). Dalam bersosialisasi ia belajar bergaul, bekerjasama, berbicara dengan orang tak dikenal, orang yang memiliki kompetensi (berkembanglah kemampuan berkomunikasi, bahasa komunikasi, memperluas pergaulan, mengendalikan diri, munculnya keberanian, ketahanan mental, kegigihan).

Keaktifan intelektual melalui berbagai alat-alat berpikir dengan menggunakan berbagai keterampilan-keterampilan intelektual . Terkembangkanlah kemampuan mendengar orang lain, berbicara dan menyampaikan gagasan, berfikir untuk solusi, mempertajam penglihatan, dan sebagainya (yang sebenarnya berbagai keaktifan itu tak terpisah, demikianpun dalam aktifitas dan pengembangannya terjadi secara simultan).

Dalam cara belajr Duduk, Dengar, Cacat dan Hafal sudah dianggap biasa apabila guru dalam mengelola kelas sekolah dasar tanpa menggunakan alat atau sumber yang lain selain buku seperti peralatan elektronik, globe, dan peralatan laboraturium karena mereka menganggap alat – alat bantu tersebut mahal. Beberapa cara pengembangan kegiatan belajar yaitu lingkungan sebagai sumber belajar, lembar kerja dan fungsinya, alat peraga buatan, pengelolaan perbedaan individu, pengajaran klasikal, pengajaran dengan menggunakan kelompok siswa.

Penggunaan lingkungan sebagai sarana dan bahan belajar mengingatkan kita akan pentingnya interaksi siswa dengan lingkungan dengan segala persoalannya. Pembelajaran berbasis siswa menuntut guru untuk lebih menaruh perhatian terhadap keberadaan dan kebutuhan siswanya sehingga siswa merasa dihargai sebagai individu. Guru harus mampu menumbuhkan rasa percaya diri siswa agar kelak mampu menghadapi segala tantangan yang menghadangnya. Selain itu peran guru dalam pembelajaran yang berpedoman kepada pembelajaran berbasis siswa adalah menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif dapat tercapai apabila guru mampu mengelola siswa dan sarana pembelajran dengan baik, serta mampu mengendalikannya agar selalu tercipta suasana belajar yang menyenangkan.

Seorang guru pun harus mampu berinovasi dalam menciptakan dan mengoperasionalkan media pengajaran. Guru memberikan kebebasan yang bertanggung jawab kepada siswa untuk berkembang melalui caranya sendiri melalui metode pembelajaran tertentu. Selain sebagai motivator, dalam pembelajaran berbasis siswa guru juga berperan sebagai pengamat dan fasilitator yang mampu membimbing dan memberi arah untuk mencapai tujuan. Kemampuan berkomunikasi dengan siswa dan menyampaikan informasi pelajaran dengan baik dapat menanamkan sikap positif pada diri siswa, seperti membantu siswa dalam memahami kelemahan dan kelebihan yang ada pada dirinya, menumbuhkan kepercayaan diri, serta membantu mengungkapkan pemikiran dan perasaan siswa.

Guru harus dapat menghargai siswa sebagai pribadi yang unik yang memiliki sifat-sifat yang khas. Keterampilan interpersonal guru diperlukan untuk membantu siswa dalam mempelajari berbagai hal yamg diperlukan dalam mencapai tingkat kedewasaan. Untuk dapat mengukur kemampuan yang telah dicapai oleh siswa, guru juga harus mampu sebagai evaluator, baik terhadap kegiatan pembelajaran maupunm terhadap kemampuan siswa.

Menurut pemikiran Gibbs, E. Mulyasa, 2003 hal-hal yang perlu dilakukan agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajarnya, adalah dikembangkannya rasa percaya diri para siswa dan mengurangi rasa takut, memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas terarah, melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya, memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter, melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan. Sikap menerima apa adanya, patuh, taat, menyebabkan guru menjadi objek yang tidak pernah habis. Bila, sikap guru pasif seperti ini kemajuan/peningkatan akan jauh dari harapan. Untuk itu, rekan guru beranilah untuk berubah, beranilah untuk mencoba melakukan hal baru, pemecahan masalah kelas secara mandiri (bukan berarti tidak bertanya pada pihak lain). Guru harus berani membebaskan diri dari keterkungkungan. Guru harus rajin membaca, berinteraksi dengan pihak lain, bersikap kritis terhadap diri sendiri, senantiasa merefleksi diri untuk menemukan kekurangan, dan segera bergerak untuk memperbaiki dirinya dan memperbaiki kinerjanya.

Guru memiliki kewengan untuk menjadi guru yang merdeka dalam merencana, melaksanakan, dan menilai hasil kinerjanya (meskipun pemerintah juga memiliki kewenangan untuk mengevaluasi kinerja guru). Guru harus membaca lengkap isi undang-undang sistem pendidikan nasional dan undang-undang guru dan dosen. Guru harus mampu menempatkan diri secara proporsional, tentu demikian seluruh pendidikan nasional, hendaknya mampu menempatkan sesuai proporsi masing.

Saat ini kesejahteraan guru sudah meningkat, meskipun belum seperti harapan, namun peningkatan kesejahteraan perlu disyukuri dengan meningkatkan kualitas diri dan kinerjanya. Bergeraklah guru sahabat semua orang, bergeraklah dan beranilah bergerak memperbaiki diri (kalau sudah baik meningkatlah). Peningkatan kita sebagai insane pendidik, akan mengakselerasi kualitas pendidikan kita segera mengejar ketertinggalan.


5. Kemampuan Anak yang diharapkan Melalui CBSA

Pembelajaran berbasis siswa memberi makna bahwa proses pendidikan harus mampu mengantarkan peserta didik untuk menguasai kemampuan yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Siswa belajar dengan caranya masing-masing untuk mencapai standar itu. Pembelajaran dilakukan dengan menekankan pada interaksi individu dengan lingkungannya sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuannya sendiri. Pembelajaran yang dilaksanakan di kelas harus dapat membantu siswa untuk memahami makna pengetahuan melalui metode yang memberikan kreasi untuk menemukan. siswa di didik untuk mampu memiliki daya saing yang tinggi dengan sejumlah kompetitor. Pemerolehan dan penguasaan perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, ketrampilan) melalui pengalaman belajar dapat terwujud apabila anak terlibat secara aktif dalam belajar.

Keaktifan dan keterlibatan itu terwujud dalam partisipasi siswa dalam mendengar, menulis, bertanya, mengukur, membandingkan, mengatakan, bercerita, menjawab, bercakap, berdiskusi, dan sebagainya. Keaktifan baik yang tampak maupun yang tak tampak, sebenarnya lebih diutamakan pada keaktifan yang tak tampak berupa: berpikir, menganalisa, memecahkan masalah, dengan menggunakan prinsip, teeori, konsep, dan sebagainya. Akan tetapi kedua keaktifan tersebut tak dapat dipisahkan, dimana keduanya membentuk proses pengembangan.

Proses pengembangan kemampuan berpikir – pembentukan sikap nilai dan proses pengembangan kemampuan mental, fisik, sosial – pembentukan ketrampilan sikap–penyaringan–pembentukan merupakan wahana pengembangan kemampuan.

Sesuai dengan prinsip CBSA kemampuan yang diharapkan siswa dalam pembelajaran berbasis siswa dapat berupa keberanin peserta didik untuk menunjukkan minat, keinginan, dan dorongan yang ada pada dirinya. Keinginan dan keberanian untuk ikut serta dalam kegiatan belajar. Usaha dan kreativitas peserta didik, keingintahuan yang kuat, dan rasa lapang dada, mampu berpikir kritis dan kreatif.

Lewat desain pembelajaran yang variatif dan kreatif, anak-anak perlahan-lahan akan menyadari betapa beragam dan kompleksnya hidup ini. Sebuah kekuatan refleksi akan masuk dalam spirit pembelajaran itu sehingga secara bertahap akan mempertajam hati nurani mereka. Bahkan, pembelajaran variatif dan kreatfi pun akan mengasah hati nurani guru itu sendiri untuk selalu mengedepankan kebutuhan belajar anak demi masa depan mereka.

Pada akhirnya, sebuah harapan besar lahirnya kepedulian anak-anak pada dirinya sendiri, orang lain, lingkungan, dan Sang Pencipta akan terwujud tatkala pembelajaran itu mampu memberi ruang dan peluang bagi mereka untuk berekspresi dalam aksi nyata. Kaki menjadi sebuah simbol yang kuat bagi anak-anak untuk peduli melakukan hal baik. Peduli dengan kemampuan dirinya untuk membantu teman yang sedang dalam kesusahan belajar, bahkan kesusahan materi. Peduli pada masyarakat miskin lewat usaha bakti sosial. Peduli akan mentalitas yang baik untuk membuang sampah pada tempatnya, jujur dalam ulangan, sopan pada siapapun, dan sembahyang sesuai agama dan kepercayaannya.

Akhirnya, pendidikan sudah waktunya untuk mengupayakan pendidikan menyeluruh dalam tataran praktis dan nyata, bukan hanya formalitas belaka. Pendidikan yang sungguh-sungguh merangkul kognitif, hati nurani, dan kepedulian dalam satu kesatuan yang utuh menjadi harapan ibu pertiwi. Saatnya pula menjadi guru yang kompeten, berhatinurani, dan peduli akan proses pembelajaran yang baik untuk anak-anak bangsa ini.

Sekian artikel mengenai Pentingnya CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar.
Lihat juga:
Penjelasan Grand Design Pendidikan Karakter
0 komentar "Pentingnya CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar", Silahkan Masukkan Komentar:
Post a Comment