Cerpen - Warna Air Mata

Ditulis oleh: Catatan Andrean Perdana
Cerpen - Warna Air Mata

Apa kau tahu perasaanku saat kau bertanya keadaanku.?

Apa kau tahu aku lelah, sangat lelah berkata “Aku baik-baik saja.?”

Apa kau tahu aku menangis setiap malam.?

Apa kau tahu perasaanku saat itu.?
Aku selalu mengalah saat kita bertengkar, padahal aku tahu hatiku tak mungkin seperti itu. Aku hanya tak ingin kau membenciku, aku sangat menyayangimu. Padahal aku tahu, kau tak pernah berterus terang padaku.

Aku benci saat kau berbuat baik padaku. Aku lelah dengan semua itu. Padahal aku tahu hatimu tak mungkin seperti itu. Aku tahu semua itu hanya sebuah kebohongan. Aku tahu kau hanya tak ingin menyakiti hatiku.

Aku memang seseorang yang lemah, yang tak bisa jujur pada diriku sendiri. Perasaan egoisku tenggelam oleh rasa sayangku padamu. Aku hanya bisa melihat air mataku di bayangan cermin. Cermin kamar yang selalu kupandangi setiap malam.

Air mata ini telah menjelaskan semua, betapa menyakitkan sikap baikmu. Aku lelah dengan semua itu. Aku benci dengan semua sikap baikmu. Aku lelah berkata “Aku baik-baik saja.” Aku ingin egois tapi aku tak bisa.

Apa kau pernah bertanya padaku bagaimana perasaanku sekarang.? Setelah kita bertengkar.? Aku hanya bisa menatap cahaya kamarku dan bertanya bagaimana keadaanmu sekarang.? Aku sama sekali tak ingin kau membenciku.

Air mata penuh warna ini mengalir setiap malam. Aku selalu berbohong dan berharap kau menyadarinya. Tapi aku tak pernah mendengar ucapan yang kuharapkan darimu. Aku selalu berkata aku baik-baik saja, tapi aku tahu aku tak sekuat itu.

Aku sebenarnya tak ingin menangis. Ini kesalahanmu kan.? Memang ini kesalahanmu, tapi aku tak boleh egois. Kalau kau bertanya padaku apa aku baik-baik saja.? Jujur saja, aku tidak baik-baik saja. Tapi entah mengapa aku tak bisa mengatakannya.

Aku selalu berada di dekatmu. Aku selalu ada bersamamu. Aku selalu memperhatikanmu. Aku selalu menyayangimu. Aku selalu mencintaimu. Tapi mengapa kau selalu seperti itu.? Apa semua sikapku menyusahkanmu.?

Aku hanya ingin kau berterus terang. Tak perlu mengasihiku. Aku memang selalu ada di sampingmu. Aku memang selalu ada untukmu. Tapi aku tahu hatimu selalu untuknya. Apa aku akan baik-baik saja dengan semua itu.?


A fiction story inspired by Yui - Namidairo.

# Andrean Perdana #
0 komentar:
Posting Komentar

0 komentar:
Posting Komentar