Cerpen - Bulan Baru Di Langit Biru

Ditulis oleh: Catatan Andrean Perdana
Cerpen - Bulan Baru Di Langit Biru

“Matahari dan bulan!”
“Keduanya punya keindahan tersendiri, yang setiap sosok takkan mampu menirunya.”

Matahari memang tampak sendirian, tapi dia tak pernah terlihat kesepian. Matahari selalu tampak bahagia, tanpa berusaha menyembunyikan kesendiriannya. Dia begitu tegar, selalu menyinari semua yang ada tanpa terkecuali. Dia begitu indah, di hiasi langit biru yang terkadang di lintasi pelangi berwana cerah. Dia begitu mempesona, saat dia mulai terbangun maupun saat mulai tertidur.

Lain halnya dengan bulan. Bulan memang selalu ditemani berjuta bintang, tapi dia tetap dihantui oleh pekatnya malam. Dia bahkan tetap memerlukan matahari untuk menunjukkan pesonanya. Mataharilah yang membuat bulan menjadi indah dan lebih indah. Bukankah itu suatu pengorbanan besar bagi matahari, yang memberikan cahayanya agar bulan tetap mempesona.?

Sampai saat ini, aku selalu diarahkan untuk memilih matahari. Sosok yang begitu indah, yang selalu tegar dalam kehidupan. Memilih matahari yang selalu mereka pilihkan, tanpa melupakan bulan yang selalu aku idamkan.

Ingin rasanya aku mengatakan pada mereka, jika aku ingin memilih bulan sebagai teman hidupku.


“Kapan.? Kapan aku dapat mengatakannya.? “

Mulut ini selalu terkunci saat aku memikirkan hal itu. Padahal aku tahu, bulan tak selalu dihantui oleh pekatnya malam. Bulan juga dapat muncul di langit biru, mencoba mendekati sang matahari.

Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan keinginanku. Waktu yang tepat sebelum semuanya terlambat. Waktu yang tepat sebagaimana aku mengumpulkan keberanianku. Waktu seiring sudah ku bulatkan tekadku, sudah ku mantapkan niatku.


“Aku ingin memilih bulan sebagai teman hidupku, bukan matahari!”

Satu kalimat terucap jelas dari mulutku, terucap lalu terdiam lagi. Aku tak memikirkan lagi apa pendapat mereka. Aku tak mempedulikan lagi apa komentar mereka. Aku hanya ingin mengatakan hal itu, tak ada yang lain. Sudah cukup melelahkan semua ini bagiku.

“Hah, Kamu masih ingin memilih bulan.?”

Semua orang menatapku, mempertanyakan keputusanku. Aku terdiam dan semakin terdiam. Bukannya aku tak peduli dengan mereka, tapi mampukah aku menjawab ekspetasi mereka. Aku terdiam dan terhanyut oleh keheningan.

“Bukankah matahari lebih indah daripada bulan.?”
“Lihatlah baik-baik, matahari begitu indah dengan sinarnya, di hiasi dengan birunya langit.”
“Sedangkan bulan.? Dia bahkan hanya memantulkan cahaya matahari, dan pekat malam selalu menghantuinya.”
“Coba pikirkan lagi, bulan takkan pernah menyamai keindahan matahari.”

Mereka terus bersuara, semakin berisik, tanpa henti. Seolah ini hidup mereka, bukan hidupku. Aku hanya terdiam, terus membisu.

“Aku tahu, matahari memang begitu indah seperti yang kalian pikirkan.”
“Aku tahu, bulan memang takkan mampu seindah matahari.”
“Tapi bagaimana jika aku tak nyaman dengan panasnya matahari.?”
“Bagaimana jika aku tak sanggup memandang silaunya cahaya matahari.?”
“Aku tak tahan dengan semua itu.”

Aku terhenyak, aku terisak. Aku ingin teriak, aku ingin menduak.

“Salahkah jika aku bersikeras mengejarmu, berusaha mendekapmu.?”

“Bulan baru di langit biru.”



A fiction story based on daily life.

# Andrean Perdana #

0 komentar:
Posting Komentar

0 komentar:
Posting Komentar